(Bab 40)

Di kampung halamanku, ada seorang muda yang dari dulu dijadikan (menjadi?) imam masjid. Sampai ketika beliau memiliki seorang anak dan waktu itu usianya kira-kira 3 tahunan, setiap kali shalat berjamaah di masjid, anaknya itu selalu membikin kegaduhan. Entah itu dengan suaranya atau dengan polahnya yang berlari ke sana kemari.
Jujur, ada sebab-sebab tertentu dari dulu, sehingga aku tidak begitu menyukai sang imam masjid tersebut. Aku pun tidak ingin mengumbar pikiranku yang telah merekam jejaknya sejak saat ketidaksukaanku terbungkus kado dengan manis untuknya. Saat anaknya bergaduh ria di masjid ketika kami shalat berjamaah, aku pun bersegera membungkuskan rasa tidak sukaku untuknya dengan kertas kado yang lebih bagus dari yang telah kualamatkan pada bapaknya.
Tapi kita tahu, sejak ulat menggulung dirinya dalam kepompong demi bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu yang indah, dan bernga muncul dari bebusukan untuk menjadi seekor lalat, yang namanya perubahan adalah sesuatu yang niscaya di planet yang bernama Bumi ini. Pun dengan pemikiranku ini, ketika seseorang menceritakan kepadaku kisah pendidikan anak-anak generasi awal Islam di mana mereka sedari kecil dibawa pada suasana masjid, sampai Hasan dan Husen yang bermain-main di atas punggung Nabi SAW ketika sedang sujud dalam shalatnya, dibiarkan.
Aku pun kemudian tahu betul. Ketidaksukaan tidak pantas menjadi legitimasi kita untuk lantas berlaku tidak adil kepada mereka yang tidak kita sukai. Maka ketika lain waktu aku berjamaah dengan diimaminya, dan anaknya itu gaduh, aku tersenyum menyesal. Betapa bodohnya aku ini waktu itu, membuncahkan ketidaksukaanku kepadanya saat sesuatu yang berkaitan dengannya digerutu banyak orang. Aku ikut mencibir anaknya itu hanya karena tidak senang pada bapaknya. Padahal tidak seharusnya aku bersikap demikian, bukan?
Benar. Begitu banyak orang yang menggerutu atas ulah anaknya itu saat di masjid oleh sebab ketidaksukaan mereka pada bapaknya. Tapi aku tidak ingin lantas menjadi seorang yang tidak adil untuknya hanya gara-gara itu. Sebab aku tahu, membawa dan membiasakan anak dengan iklim masjid adalah sesuatu yang baik.
Tapi rupanya, pikiranku saat itu baru berupa kepompong dari seekor ulat dan bernga dari setumpuk bebusukan. Suatu waktu, anak sang imam ikut lagi ke masjid dengan membawa layang-layang. Saat iqamah ditegaskan, seorang bapak mengejar-ngejarnya dengan geram karena polahnya yang mengganggu. Sementara bapaknya yang hendak mengimami jamaah seolah tidak peduli akan hal itu. Saat itulah, kepompong robek dan bernga menjadi bersayap. Aku sadar, betapa aku sudah salah menempatkan suatu sikap. Alih-alih ingin taat pada perintahNya dengan tetap berlaku adil pada seseorang meski kita tidak menyukainya, rupanya memang mesti kuberi kado beliau itu. Biar ketidaksukaanku beriringan dengan pandangan banyak orang dalam jamaah ini yang terganggu oleh ulah anaknya itu. Sebab, jika aku membiarkannya, saat iklim pendidikan dulu dan sekarang senjang, tampaknya itu adalah perkara syar’i yang miskonteks.


Killing Psychological Theories

 

Kelipatan dekade sudah mewajarkan semakin buramnya lembaran demi lembaran di dalamnya. Covernya, lumayanlah, masih cukup terjaga lantaran plastik pembungkus membungkus meski sudah lusuh. Di samping sudah semakin menua, buku psikologi perkembangan keluaran tahun 80-an awal tersebut pada kenyataannya masihlah memiliki sesuatu yang bisa kita bilang “eternal”. Bukan masalah fisiknya. Apatah artinya jika api kita nyalakan di setiap lembarannya. Yang kumaksudkan adalah isinya. Kandungannya. Serangkaian materi yang, barangkali, sampai sekarang masih menjadi jabang disiplin ilmu psikologi.

            Tiga buah teori psikologi perkembangan menjabar di dalamnya sebagai sesuatu yang berhasil menarik minatku untuk kemudian lebih kucermati. Sebab preformasionis, predeterministik, dan tabula rasa benar-benar dikonfrontir oleh alam pikiranku yang setiap sudut ruangnya kini telah dipenuhi oleh dogma ketauhidan. Sebagai seorang yang beriman, tentu lebih kupilih apa yang telah diberitakan oleh dogma ketauhidan, daripada harus mengakui benar salah satu, atau bahkan menggilakan diri dengan mengambil ketiga teori psikologi perkembangan tersebut sekaligus.

            Setiap anak terlahir fitrah. Siapa yang berani membantah diktum Rasul SAW tersebut? Jika ada, maka ia kafir. Seharusnya kita tidak perlu lagi bergaya-gayaan, berkeren-kerenan, atau petantang-petenteng mencoba, yang sama sekali tak akan pernah membuahkan hasil membanggakan kecuali semakin hina, berusaha merekonstruksi ucapan Sang Rasul tersebut dengan tafsir dangkal yang manut pada hawa nafsu. Jemawa ikut pendapat sekte preformasionis yang menyatakan bahwa setiap dari kita sejak dilahirkan sudah membawa dosa orangtua sebagai sesuatu yang inheren; memilih pendapat sebaliknya dari predeterministik yang menyatakan bahwa kita sebenarnya dilahirkan murni dengan kebaikan yang pada perjalanannya mesti berhadapan dengan buruknya lingkungan; atau bahkan lebih memilih untuk sok menengahi ala tabula rasa dengan berkata bahwa ketika dilahirkan kita semua adalah netral bak selembar kertas putih yang kosong, adalah sama hinanya antara pilihan yang satu dengan yang lainnya. Ucapan seperti yang keluar dari mulut Rousseau atau Lock tidak akan pernah mempunyai nilai sedikit pun di depan gigantiknya kata-kata Muhammad SAW.

            Sebagian besar dari kita tentu sulit untuk menerima kenyataan bahwa dosa yang dilakukan oleh orangtua kita merembes masuk pada ari-ari kita sebagai nutrisi pertama sejak di alam rahim. Sebagian lainnya mungkin lebih menerima pendapat bahwa keburukan yang ada pada setiap diri kita adalah salah lingkungan yang tidak becus untuk sekadar mengakomodir. Dan barangkali sebagian dari kita akan lebih memilih untuk bersikap so-called bijaksana dengan mengatakan bahwa setiap jiwa manusia itu pada awalnya adalah kosong: menjadi baik atau buruk adalah karena pengalaman hidup dengan lingkungan.

            In fact, pendapat ketigalah yang lebih banyak memenuhi ruang prinsip sebagian dari kita. Sekilas tak ada yang salah, memang, dengan pernyataan menjadi baik atau buruk adalah karena pengalaman hidup dengan lingkungan. Tapi kita tidak sedang membicarakan prasasti empirisme tentang sebuah perjalanan hidup tersebut. Kita berbicara tentang perkara yang lebih esensial dari itu: bagaimana keadaan kita pada kali pertama ada, baik sebelum atau sesudah ruh ditiupkan.

            Para pencetus ketiga teori psikologi perkembangan yang ada melahirkan pendapatnya tidak lebih dari sekadar pengamatan belaka atas manusia. Untuk dianggap berhasil dalam (berpendapat) menentukan hakikat sesuatu –keadaan jiwa manusia sejak awal– jelas mereka berkesimpulan tanpa didampingi oleh suatu referensi yang paling rasional dari referensi terasional sangkaan mereka. Akibatnya, pendapat yang dikeluarkan cukup serampangan. Bahkan pada titik ekstrim bisa kita katakan sebagai konklusi yang sangat edan.

            Entah referensi macam apa yang mereka gunakan. Kecuali preformasionis yang berkesesuaian dengan doktrin salah satu aliran Kristen, kedua teori sisanya seolah berdiri di atas referensi yang paling para pencetusnya jagokan dan agung-agungkan: akal. Mereka luput. Mereka tidak beriman –dengan benar– terhadap Sesuatu yang ada sebelum manusia dilahirkan. Padahal dari keimanan itu kita bisa memperoleh referensi yang paling sahih untuk menentukan titik utama persoalan ini.

            Sebagai orang yang beriman, seharusnya kita tidak lantas menjadi pandir mencari-cari esensialitas suatu perkara dengan keluar dari halaman risalah yang datang dari langit untuk kita. Menceburkan diri ke dalam samudra filsafat yang tak bertepi; menjilati setiap dahak para pemikir kafir; menyangrai ingus yang keluar dari serat-serat otaknya; atau bahkan melulurkan ekskresi produk duburnya agar kita sekeblinger mereka dalam berargumen. Kita mempunyai manual book tersendiri, yang membantu kita dalam menghukumi sejumlah fakta kehidupan yang dinamis.

            Di “tempat tertinggi”, cerita tentang kefitrahan setiap jiwa manusia telah dikisahkan.

            Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’.” (al-A’raf [7]: 172)

            Kefitrahan setiap jiwa anak manusia telah hadir sebagai sesuatu yang mutlak lengkap dengan standarisasi yang juga mutlak: Esanya Tuhan dengan segala undang-undangNya. Sebab itu, seiring dengan Tuhan beralasan memfitrahkan jiwa setiap anak Adam, selaku manusia kita sama potensialnya untuk menjadi baik atau jahat.

            Mau kita percaya atas kabar kefitrahan jiwa tersebut? Mestinya kita tahu diri. Kita sudah tidak berdaya lagi untuk sekadar membantah. Seberlari kencang sejauh apa pun dan berteriak dengan lantang,

            “Aku tidak pernah tahu jiwaku telah membenarkanNya! Faktanya sekarang adalah bahwa sedikit pun aku tidak mengakui kejadian itu!”

kita tidak pernah akan lepas dari rantaian kata-kata orang yang banyak manusia ingkari:

            “Setiap anak yang terlahir adalah dalam keadaan fitrah. Maka ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari-Muslim)

            Dari sini juga, seharusnya, kita sudah tahu tentang sesuatu; tentang pengajaran setiap anak manusia demi pencapaian apa yang dicitakannya dalam hidup ini. Jika standar kebaikan dalam predeterministik mengambang, lantas kita beralih pada kekosongan jiwa ala tabula rasa yang ternyata tidak pernah valid juga, maka hanya dengan pengajaran kalimat yang baik (kalimah thayyibah) dari Islamlah satu-satunya pengajaran, pendidikan dan pembinaan yang cocok untuk setiap diri anak Adam di dunia ini tanpa kecuali. Bukan yang lain.

            Tidak perlulah kita memberantakkan diri, hanya dengan alasan yang sama sekali tidak keren: mencari jati diri, dengan sesuatu yang selama ini dianggap bisa mengantarkan manusia pada pengenalan diri sekaligus menancapkan eksistensinya di dunia ini, semisal filsafat atau semacamnya. Pun aplikasi pendidikan pada anak-anak kita, dengan modul-modul pengajaran biasa yang kadang kala banyak ketidaksesuaiannya dengan tuntunan Islam. Cukup hanya dengan mengajarkan kalimat yang baik (kalimah thayyibah) dan modul dari Islam saja, anak-anak kita akan “utuh” hidup di dunia ini untuk kemudian menyambut kehidupan yang kekal di akhirat kelak. Begitu juga dengan kita. Sebab, kefitrahan setiap anak manusia sedari lahir hanya akan kompatibel dengan kalimah thayyibah yang ditafsiri Ibnu ‘Abbas sebagai kalimat ketauhidan: Laa ilaaha illa Allah. Tidak dengan yang lain.

            Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baikseperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit? Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itudalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim. Dan Allah berbuat dengan apa yang dikehendakiNya. (Ibrahim [14]: 24-27)

            Bagaimana? Teori-teori dari psikologi perkembangan itu sudah seharusnya bersimpuh dan menjadi remah-remah di hadapan digdayanya dogma ketauhidan, bukan? Manusia tidak terlahir dengan keburukan, kebaikan yang mengambang, atau kenetralitasan jiwa. Setiap anak manusia hanya terlahir dalam keadaan fitrah; suci. Kita, sudah dari sananya, mengakui bahwa Tuhan itu adalah satu: Allah. Lantas, kita masih mau ingkar? []

 


Tanpa Sedebu Kosmetik

Di bus berhawa dingin yang telah memberangus peluh tubuhku yang sudah melengket, di bangku kedua dari belakang itu, seorang mahasiswi mendekati bangku kosong yang berada di sampingku. Dalam keadaan bus yang sudah penuh sesak itu, bangku kosong di sampingku tampaknya memberikan secercah harapan buat mahasiswi yang entah sudah menginjak tahun ke berapa itu.

“Kosong, Pak?” buru-buru dia menanyakan itu demi mendapat tempat duduk untuk melepas lelahnya.

Sungguh aku tidak akan merasa bermasalah seandainya sebelum menyanding di bangku itu dia tidak berbasa-basi terlebih dulu dengan bertanya seperti itu. Individualisme yang kini diemban banyak orang dalam sebuah perjalanan sudah mewajar dalam pikiranku.

Aku pun tidak akan lantas memerah padam seandainya dia, sebelum duduk, mengibas-ibaskan rambut panjangnya demi menarik perhatian seorang pemuda tampan sepertiku. Haha.

Skip. Benar, aku tidak akan merasa bermasalah dengan kedua kondisi yang mungkin terjadi itu. Yang membuatku merasa bermasalah dan harus berurusan dengannya adalah sebutan yang dia pakai untuk memanggilku. Itu saja.

Lain hari, saat aku membeli sekaleng cat di sebuah toko bangunan, seorang remaja yang melayaniku membawakan cat pesanan tersebut berujar dengan sopan menurut versinya, “Ini, Pak, catnya.”

Pun saat kemarin siang, ketika seorang remaja perempuan merasa gugup menghadapi ujian teori pembuatan SIM, dia lantas mencoba berbincang denganku. “Pertama bikin, Pak?”

Ya Allah, bukankah tidak akan pernah terjadi, suatu hari di mana aku sedang jalan sore-sore dengan istriku yang tengah mengandung, siapa pun yang merasa harus bertanya kepada kami akan berujar, “Wah, sudah mau punya cucu ya, Pak?”, dengan wajah tanpa senoktah dosa pun, kan? Aku tidak mau mengoles sedebu kosmetik pun pada wajahku ini demi membuat orang lain memanggilku kang, mas, atau aa.

Saya jadi teringat apa kata Pidi Baiq tentang hal tua. Sebenarnya kita tetap muda meski pun sudah mempunyai anak. Sebab merekalah, anak-anak kita, yang menjadikan kita sebagai orang-tua, padahal kita masih muda.

Awal Maret 2012, dengan geram.


Sujud Tenang

Seperti gejala sleep paralysis yang semakin membuai kelelahan badan saya kala tertidur, akhir tahun semakin mendekati sementara saya masih berkurusetra dengan kusutan benang pikiran. Keadaan mental saya tampaknya masih labil di hadapan orang-orang tenang yang berbicara tentang sesuatu hal dan berantakannya buku-buku yang tak sekali pun sempat saya tamatkan kecuali beberapa eksemplar saja. Kelabilan tersebut sungguh pun tidak mengusik pendirian saya akan satu hal: saya menolak pada instruktif setiap omongan yang keluar dari celah bibir paman dan bibi serta mereka yang bercericit bising tentang masa depan dengan mimik tak tenang yang menyeret saya untuk tidak keluar dari garis yang mereka bentangkan. Kelabilan itu hanya membuat saya merasa berada di antara pagi yang menarik gorden gulitanya malam dengan mentari bersinar terang di depan langit biru yang berjingkrak ria dan pagi yang seperti enggan menyibak tirai malam dengan mentari dipaksa sembunyi di bawah langit yang lebam. Tapi saya pun tahu. Terhadap keduanya saya merasa tidak masalah. Itu sudah teratur dari sananya. Saya tidak mempunyai pilihan kecuali atas pikiran dan mental jiwa saya untuk menghadapinya. Karena betapa pun cerahnya setiap pagi yang saya dapati, apalah artinya jika jiwa saya begitu rapuh sehingga dengan mudah dan tanpa rasa malu saya menjerit kesakitan, “Hidup itu terlalu keras, wahai!” Pun dengan pagi yang kelam, jika pikiran dan mental jiwa saya terpatri kuat karena tetap melawan dan tak kenal lelah, saya bisa dengan bangga berkata, “Hidup itu tidak keras karena hidup saya tidak lemah!”

Saya tahu, bagaimana saya bisa melafalkan hitungan dari satu sampai sepuluh dan membalikucapkannya dari sepuluh sampai satu dengan benar jika saya mengucapkannya dengan tidak tenang dan bergegas. Saya mesti tahu itu. Karenanya, betapa pun di luar kepala ini suara-suara sumbang teramat bising mengalun, saya harus bisa untuk tetap tenang dan fokus pada cita yang bisa mengusutkan pita kaset mereka. Dan di akhir, saya pun tidak akan peduli jika mereka merasa malu karena saya bangga memiliki keyakinan yang sampai saat ini tidak tergoyahkan meski godaan datang membadai seperti tuanya usia mereka dan percaya akan terjadi. Saya percaya, mata kepala mereka terlalu picing dibanding mata keyakinan saya ini.

Jika Sisifus yang terkutuk itu mengulang mengumpulkan batu yang menghujan dari atas bukit dan memanggulnya kembali ke atas bukit dan bergulir jatuh lagi, karena mata kepala mereka picing, akan kubalikkan bukit itu sehingga batu-batu itu akan berada di puncak dengan mudahnya dan dengan kuasaNya Yang Aneh dan Tidak Masuk Akal itu akan sembuhlah kesia-siaan yang mereka anggap menjadi penyakit di kepala saya ini.

Saya tahu, merangkai itu semua haruslah dengan ketenangan. Sudah jauh-jauh hari barisan setan bertekad akan terus menggoda dengan segala sikap manusia yang terburu-buru. Seperti halnya malam tadi, saat saya mengambil baju kurung istri saya dan tak sengaja menggulirkannya memanjang sehingga saya harus melipatrapikannya kembali. Saya tahu bahwa saya bukanlah tidak bisa melipat baju, tapi hanya tidak pandai saja. Dengan keburu-buruan, saya bisa melipatkan baju kurung istri saya itu kembali. Tapi tak rapi. Melihatnya teronggok seperti itu, saya sadar akan satu hal: begitulah jika kita tidak serius merapikan apa yang semestinya dirapikan. Saya ambil lagi baju kurung tersebut dan mencoba melipatrapikannya kembali dengan ketenangan, dan rapilah dia. Maka begitu jugalah hidup ini. Apa pun dengan jiwa yang tenang dan serius, selesailah urusan kita dan kusutlah pita kaset mereka yang menggoda dan menyumbangi backsound jalan hidup kita.

Yaa ayyatuHannafsul muthmainnah, irji’ii ilaa rabbiKi raadliyatammardliyyah. Fadkhulii fii ‘ibaadii, wadkhulii jannatii…


Hidup dalam Celaka

Dear Western Union Customer,

You have been awarded with the sum of $50,000 USD by our office, as one of our customers who use Western Union in their daily business transaction. This award was been selected through the internet, where your e-mail address was indicated and notified. Please provide Mr. Gary Epps with the following details listed below so that your fund will be remited to you through Western Union.

1. Name:______
2. Address________
3. Country:_______
4. Phone Number____
5. Occupation:________
6. Sex:_________________
7. Age___________________

Mr.Gary Epps

As soon as these details are received and verified, your fund will be transferred to you.

Thank you, for using western union

——————————————-

Pagi-pagi sudah ada e-mail aneh masuk. Menyangsang di folder spam pula. Dan, setelah membacanya, tahukah apa yang saya simpulkan dari segulir e-mail yang masuk ke ruang karantina tersebut?

Sebagai orang yang sedang belajar menyeimbangkan diri lantaran banyak perkara yang datang tidak mudah kita vonis begitu saja karena keterbatasan pengetahuan, sini saya bisikkan sesuatu di dekat daun telingamu: HIDUP TANPA ILMU ITU MEMBUAT KITA CELAKA. Percayalah.


(Bab 39)

Sebanyak dan sederas rintik hujan di luar sana, dia tersadar dari hendak melakukan perbuatan bodoh: berputus asa dari rahmat Allah.


(Bab 38)

SOMETIMES THERE’S NO WORDS
TO EXPLAIN WHAT YOU HAVE DONE
ACTING LIKE A GOD AND SMELL LIKE AN ANIMAL
YOU KEEP SERVING ME WITH YOUR TRICK
AND HIDING BEHIND THE HIGHEST BRICK
CAN YOU SEE US? CAN YOU FEEL US?
NOW I KNOW YOU’RE JUST AFRAID THAT I’M RIGHT
NOW I FEEL YOU’RE JUST AFRAID THAT I’M REAL
ALL THE LIFE PHASE IN THIS WORLD IS A SCENARIO
TOO MANY PROMISES DISAPPEAR WITHOUT TRACE
FACE!
FACE THE BLUR LINE, FACE THE LOST LINE
INSANE… I CAN’T STAND ON ALL THIS SHIT
SEE MY FIST… FACE TO FACE!
LOOK AT THIS SCARS
IT’S ENOUGH TO EXPLAIN FOR WHAT YOU HAVE DONE
ALL MY HATRED WILL SLAY EVERYTHING THAT PUSHED ME AWAY
DROP THE SYSTEM, DROP THAT POWER
ERASE… ALL THAT BULLSHIT AWAY
YOU THRUST THE KNIFE INTO MY SIDE, WHY?
WE WERE BORN TO BLEED
WE ARE HERE TO DOMINATE
WE’RE STRONGER THAN EVER BEFORE
NOW I KNOW YOU’RE AFRAID THAT I’M RIGHT
NOW I FEEL YOU’RE AFRAID THAT I’M REAL
YOU OFFER… TO PROTECT
SEE MY SCARS… SEE MY SCARS
YOU PRETEND… TO PROTECT
SEE THIS FUCKING SCARS… THE FUCKING SCARS!
I’M COMING!
WE’RE NEVER ALONE… WE NEVER FORGET!


(Bab 37)

Manusia itu makhluk lemah. Ia bisa dengan mudah menjadi remah-remah di hadapan deraan masalah yang ia pikir tak mampu untuk dibuat enyah. Padahal, dari suatu permasalahan, Allah tengah mengajarkan keoptimisan hidup pada kita lewat firmanNya, “Kalian tidak Kuberikan beban apa yang tidak mampu kalian pikul.” Karena itu, mestinya kita yakin, bahwa setiap permasalahan apa pun akan mampu kita jalani, kita lewati. Mestinya, setelah itu, kita menggencarkan segala usaha untuk menghantamnya, jika ingin lepas. Dalam kepalan tangan kita, dalam setiap buliran keringat kita, dalam terengah-engahnya nafas kita, dalam pertarungan ego kita, di sana mengalir derasnya pahala andai kita yakin bahwa kita bisa melewatinya. Dan kita tidak layak mempertanyakan hasil, karena justru kita akan ditanya tentang yakin tidaknya kita bisa melewatinya jika saja kita malah menyerah.

Tunjukkan pada mereka, bahwa kita bisa bertahan dengan keyakinan ini. Jangan malah karena kita punya akal, kita kalah dengan binatang, dengan cara mengeluh tanpa doa dan usaha.


Daddy, Can I Have $10?

Tetangga saya bercerita…

A man came home from work late, tired and irritated, to find his 5 year old son waiting for him at the door.

“Daddy, may I ask you a question?”

“Yeah, sure, what is it?” replied the man.

“Daddy, how much money do you make an hour?”

“That’s none of your business! What makes you ask such a thing?” the man said angrily.

“I just want to know. Please tell me, how much do you make an hour?” pleaded the little boy.

“If you must know, I make $20.00 an hour.”

“Oh, ” the little boy replied, head bowed. Looking up, he said, “Daddy, may I borrow $10.00 please?”

The father was furious. “If the only reason you want to know how much money I make is just so you can borrow some to buy a silly toy or some other nonsense, then you march yourself straight to your room and go to bed. Think about why you’re being so selfish. I work long, hard hours everyday and don’t have time for such childish games.”

The little boy quietly went to his room and shut the door. The man sat down and started to get even madder about the little boy’s questioning. How dare he ask such questions only to get some money. After an hour or so, the man had calmed down, and started to think he may have been a little hard on his son. May be there was something he really needed to buy with that $10.00 and he really didn’t ask for money very often. The man went to the door of the little boy’s room and opened the door.

“Are you asleep son?” he asked.

“No daddy, I’m awake,” replied the boy.

“I’ve been thinking, maybe I was too hard on you earlier,” said the man. “It’s been a long day and I took my aggravation out on you. Here’s that $10.00 you asked for.”

The little boy sat straight up, beaming. “Oh, thank you daddy!” he yelled. Then, reaching under his pillow, he pulled out some more crumpled up bills. The man, seeing that the boy already had money, started to get angry again. The little boy slowly counted out his money, then looked up at the man.

“Why did you want more money if you already had some?” the father grumbled.

“Because I didn’t have enough, but now I do,” the little boy replied. “Daddy, i have $20.00 now. Can I buy an hour of your time?”


Apa dan Siapa Saksi Iman Kita?

Tulisan lama lagi…

Perhatian saya tersita oleh sebuah judul berita berikut gambar yang dipasang sebagai visualisasi artikelnya, di portal yang sering saya kunjungi. Artikel itu menceritakan seorang Muslimah di London yang kena jotos lantaran membela kerudungnya. Empat perempuan yang tidak menyenangi Islam mendatangi Muslimah itu untuk kemudian menarik secara paksa helaian kerudung yang sedang dikenakannya. Muslimah tersebut menentangnya. Keempat perempuan terlaknat itu akhirnya mendaratkan pukulan pada wajah Muslimah itu karena mendapat penolakan yang tegas. Berdarahlah Muslimah itu di wajahnya.

Beritanya memang menyesakkan. Bagaimana bisa perlakuan sekasar itu terjadi, menimpa dan dialami oleh seorang perempuan? Marah saya dibuatnya. Saya membayangkan dia adalah adik perempuan saya. Dan jika itu terjadi di depan saya, tak akan berlama-lama lagi untuk saya menyerang balik si pelaku.

Di tengah memanasnya kepala saya mendapati berita semacam itu, tertegunlah saya membaca sebaris komentar dari salah seorang pembaca. Deretan kata itu membuat saya bergeming untuk merenung.

“Allah SWT akan menjadikan darah tersebut sebagai saksi keimanan.”

Kata-kata itu sungguh menampar saya. Sebab, kadang kita selalu merasa bahwa untuk berislam itu cukup hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat saja. Perihal laku setelah kita mengikrarkan kalimat tauhid itu sering melenceng. Salah satunya adalah terkait dengan ujian yang diberikan kepada kita yang mengaku beriman.

Sesabar apakah kita kala mendapatkan musibah?

Selapang apakah hati kita menerima qadlaNya?

Sekuat apakah usaha kita dalam berlari menujuNya?

Jika saudari kita itu diuji dengan tindak kekerasan yang dilakukan oleh mereka yang tidak senang pada Islam, hingga wajah ayunya bersimbah darah yang kelak akan menjadi saksi keimanannya, maka dengan cara apakah kita akan mendatangkan saksi untuk keimanan kita ketika Allah mempertanyakannya?

Apa dan siapa yang akan kita datangkan sebagai saksi keimanan kita kepada Allah,

sementara tangan ini lebih sering diperuntukkan bukan untuk memegang bara api Islam di akhir zaman;

kaki ini sering menjauh dari rumah dan seruanNya;

mata ini sering melihat yang bukan haknya;

telinga ini sering ditutup kala lantunan ayatNya didengungkan;

dan lidah ini sering digunakan untuk berkoar-koar dengan kalimat yang tidak ahsan?


Gempa dan Iman pada Qadla

Tulisan lama…

***

Hari ini, Jepang digoncang gempa sekian skala Richter. Portal berita yang saya simak menuliskan angka 8,9 dalam memberitakannya. Saya kira angka tersebut cukup representatif untuk memunculkan depiksi goncangan gempa yang besar pada setiap benak orang yang mengetahuinya. Terbayanglah kalau tanah yang sedang saya pijak ini bergoncang dalam skala demikian.

Di tanah Sunda, gempa itu dikenal dengan sebutan lini.

Dulu saat masih kecil, dengan mendengar kata lini, saya selalu membayangkan bahwa gempa itu adalah menyeruaknya sesosok gergasi yang tersusun dari bebatuan keras. Ia berkehendak untuk muncul ke permukaan bumi dari celah-celah tanah. Karena sempitnya celah-celah tanah, maka terbayanglah dalam benak saya perihal berontaknya gergasi tersebut dengan tubuhnya yang dipenuhi bebatuan keras. Bergoncanglah bumi.

Sekira umur Imam Ali kwh saat beliau beriman, yang selalu menghinggapi saya di usia sekecil itu ketika terjadi gempa adalah perasaan takut. Dada saya berdebar kencang. Bahkan lutut saya bergemetaran. Keluarlah kami sekeluarga dengan panik yang membuat pucat muka.

Kini, kadang saya suka merasa betapa enaknya ketika terjadi gempa dengan segala kegoncangannya. Saya tidak bermaksud untuk sesumbar.  Ini hanya bentuk kejujuran saja dalam merasakannya. Betapa tidak, saya selalu merasakan iman kita pada qadla selalu ditempa pada saat terjadi gempa. Kita melihat lalu-lalang orang-orang yang memasang mimik ketakutan. Lari ke sana kemari. Hampir tidak memikirkan orang lain. Di wajahnya tampak kengerian yang sangat. Sedangkan bagi mereka yang di dalam jiwanya memancang iman demikian dalam, bisa dipastikan mampu menghadapinya dengan kekhawatiran dalam kadar yang wajar. Bahwa mereka mengetahui ajal bisa datang kapan saja, di mana saja, dan dengan kondisi sekitar sedang apa. Ajal tak membutuhkan persetujuan manusia untuk menghinggapinya. Dan bagi mereka yang memahami benar qadla Allah adalah terciptanya ketenangan yang tak bisa diukur di dalam hati dan jiwa mereka yang penuh iman.

Tidakkah kita merasakan di saat tanah yang kita pijak bergoncang, muncul suatu perasaan yang begitu menyenangkan dalam hati yang mendorong kita untuk berujar, “Hey, kenapa mesti takut pada sesuatu yang sudah Allah tulis dalam kitabNya yang sublim? Bukankah Allah sudah menyuruh kita untuk senantiasa mengimani qadlaNya saja dalam setiap kejadian? Tak perlulah kita meratapi segala sesuatu yang memang harus terjadi. Tak usah pula kita mempertanyakan Allah atas kejadian tersebut jika ada bagian dari keluarga kita yang menjadi korban. Allah tidak akan bisa kita tanyai; kita adili; kita tuntut di meja hijau. Justru kitalah yang akan diadiliNya. Sikap yang kita munculkanlah yang akan Dia adili. Kalau sudah begitu, bukankah tidak ada yang lebih menenangkan jiwa selain kita cukup beriman saja pada qadlaNya?”

————————————–

Untuk Bu Zulia Ilmawati beserta keluarga yang tengah berada di Jepang dan kawan2 Menara Syndicate di Pulau Sulawesi. Tetaplah bersabar menghadapinya. Tak ada yang perlu ditakuti. Banggalah kita karena sudah mengantongi pemahaman qadla Allah yang tercatat dalam megaserver Lauh al-Mahfuzh.

Jum’at, 11 Maret 2011

Saudaramu di Bandung,

Etimet Mea


Siapa Bilang Indonesia Negara Gagal?

Negara Berhasil[1]

Sebagai negara pluralis, Indonesia telah berhasil mengotori akidah umatnya;

sebagai negara yang pernah mengizinkan PKI hidup, Indonesia telah berhasil menghisap setiap tetes darah penduduknya;

sebagai negara yang melokalisasikan pelacuran, Indonesia telah berhasil mencemarkan kehormatan bangsanya;

sebagai negara yang melimpah ruah kepemilikan umumnya, Indonesia telah berhasil memfoya-foyakan harta kekayaannya;

sebagai negara yang ramah, Indonesia telah berhasil membiarkan setiap inci tanah airnya lepas didikte asing;

sebagai negara yang penuh utang, Indonesia telah berhasil melelang kedaulatan rakyatnya;

sebagai negara yang memiliki program KB, Indonesia telah berhasil menekan angka kelahiran generasi-generasi terbaik umat Islam; dan

sebagai negara yang sok pintar, Indonesia telah berhasil membangun diri di atas paradigma yang salah.

Ketika negara tikus ini mengandung banyak kasus;

ketika negara liberal ini mengalami banyak aral;

ketika negara yang penuh intrik ini memicu banyak konflik;

ketika negara penyetara gender ini menjadi keblinger;

ketika negara sekular ini melahirkan banyak kerusakan multidimensi yang menjalar;

ketika negara penjunjung HAM ini menimbulkan banyak ketidaksepemahaman;

ketika negara pengagung kebebasan ini meresahkan masyarakat di semua lapisan;

serta

ketika politik di negeri ini bersifat oportunistik;

ketika kebudayaan di negeri ini menopang kebebasan;

ketika liberalisasi ekonomi di negeri ini tak seenak Es Moni[2] dan menghegemoni;

ketika kapitalisasi pendidikan di negeri ini menyebalkan;

ketika pejabat negeri ini membuat rakyat melarat;

ketika Gayus tak kunjung diberangus;

ketika Ariel dan Luna terbebas dari hukuman berzina;

ketika PSSI yang lebih membutuhkan revolusi;

ketika Om Beye mulai menya-menye;

ketika Om Budi tak berbudi; dan

ketika partai-partai bertambah lebay;

negara ini sungguh telah berhasil.

Ya, negara ini sungguh telah berhasil menyulut api revolusi pada hati setiap rakyat yang terzalimi dan mendorong membuat rakyat memutus tsiqat dalam tindakan dlarbul ‘alaqat.

Maka, kuucapkan salam berkah bagi negeri yang akan menerapkan Islam secara kaffah dalam naungan ad-Daulah al-Khilafah al-Islamiyah ats-Tsaniyah :)


[1] Mengutip Pidi Baiq, Ini pendapat saya. Pendapat masyarakat adalah salah. Pendapat sayalah yang benar bahwa pendapat saya salah :p

[2] Es Moni adalah jajanan saya waktu SD. Rasanya macem2. Murah meriah harganya. Hanya saja saya lupa berapa harganya :D


Kita Ini Punya Empat Istri

Kita Ini Punya Empat Istri[1]

***

Pada zaman dahulu ada seorang raja yang memiliki empat orang permaisuri. Namanya raja, tentu ia memilih wanita yang cantik-cantik sebagai permaisurinya. Hanya saja Sang Raja memperlakukan keempat permaisurinya secara tidak adil. Sang Raja mencintai permaisuri termudanya (yang nomor empat) dengan sangat berlebihan. Ia pun selalu berusaha memenuhi segala kebutuhan dan permintaan permaisuri termuda ini hanya untuk memenuhi hasratnya dan meraih cintanya.

Sedangkan kepada permaisuri ketiga, Sang Raja juga mencintainya. Hanya saja Sang Raja merasakan, bahwa permaisuri ketiga ini terkadang meninggalkannya untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Lain halnya dengan permaisuri kedua. Ia selalu menjadi tumpuan Sang Raja setiap menghadapi kesulitan. Ia pun selalu mendengarkan dan memperhatikan keluh kesah Sang Raja dalam setiap menghadapi kesulitan. Bahkan tidak jarang, permaisuri kedua ini seringkali terlihat merasa prihatin dengan kesulitan yang dihadapi Sang Raja, suaminya.

Sedangkan permaisuri pertama dan tertua, Sang Raja tidak pernah memperhatikannya. Hak-haknya sebagai permaisuri pun tidak pernah dipenuhi. Kehidupannya terbengkalai akibat korban ketidakadilan suaminya terhadap permaisuri-permaisurinya. Padahal permaisuri pertama ini sangat mencintai Sang Raja. Dan dia pula yang berperan besar dalam menjaga kerajaannya.

Suatu saat, Sang Raja mengalami sakit keras. Ia pun merasakan bahwa ajalnya sudah di ambang pintu. Maut akan segera menjemputnya. Akhirnya Sang Raja berpikir, “Aku sekarang memiliki empat orang permaisuri. Sebentar lagi maut akan segera menjemputku. Aku tidak mungkin pergi ke alam kubur sendirian.” Demikian pikiran yang menggelayut di benaknya.

Sang Raja memanggil permaisuri termudanya yang memang sangat dimanjanya, sehingga semua kebutuhan dan permintaannya selalu dipenuhinya. Raja berkata kepadanya, “Aku sangat mencintaimu melebihi permaisuriku yang lain. Aku telah memenuhi segala keinginan dan permintaanmu. Namun kini sepertinya ajal akan segera menjemputku. Sekarang aku bertanya kepadamu, apakah kamu rela bersamaku sebagai pendamping dan penghiburku nanti di alam kubur?”

Sang permaisuri menjawab, “Ini tidak mungkin terjadi.” Segera permaisuri itu meninggalkan Sang Raja yang terkulai lemas tidak berdaya itu tanpa menampakkan rasa kasih sayang sedikitpun.

Lalu Sang Raja memanggil permaisuri ketiga dan berkata kepadanya, “Aku mencintaimu seumur hidupku. Sekarang ajalku sudah di ambang pintu. Bersediakah kamu menemaniku di alam kuburku nanti?” Permaisuri ketiga ini menjawab, “Tentu saja tidak. Hidup ini sangat indah. Dan setelah kematianmu, aku akan segera pergi dan menikah dengan laki-laki lain.”

Lalu Sang Raja memanggil permaisuri kedua dan berkata kepadanya, “Selama hidupku aku selalu mengadu dan mengeluh kepadamu dalam setiap kesulitan yang aku hadapi. Telah begitu banyak pengorbananmu untukku. Dan selama ini kamu selalu setia membantuku. Sekarang aku akan bertanya kepadamu, bersediakah kamu menemaniku di alam kubur nanti?” Dengan penuh perhatian dan lemah lembut, permaisuri ini menjawab, “Maafkan aku suamiku. Aku tidak mungkin memenuhi permintaanmu. Aku hanya bisa mengantarmu nanti sampai ke kuburmu.”

Setelah mendengar penolakan ketiga permaisurinya untuk menemaninya di alam kubur nanti, akhirnya Sang Raja merasa susah dan bersedih hati menghadapi detik-detik kematiannya. Tiba-tiba ia mendengar suara dari kejauhan berkata kepadanya, “Aku siap menemanimu di alam kuburmu nanti. Aku akan selalu bersamamu kemana pun kamu pergi.” Sang Raja melihat ke arah suara itu. Ternyata ia permaisuri pertamanya yang sudah kurus kering dan sakit-sakitan karena tidak pernah diperhatikan oleh Sang Raja, suaminya. Akhirnya Sang Raja merasa menyesal telah menelantarkan permaisuri pertama tersebut selama hidupnya. Sang Raja berkata, “Seharusnya selama ini aku memperhatikanmu melebihi permaisuriku yang lain. Seandainya masa lalu dapat kembali lagi kepadaku, tentu kamu akan menjadi permaisuriku yang paling aku perhatikan melebihi permaisuriku yang lain, karena pada saat-saat seperti ini, hanya kamu yang siap menyertaiku ke mana pun aku pergi.” Demikian Raja itu berkata kepada permaisuri pertamanya yang telah kurus kering dan sakit-sakitan akibat ketidakadilannya.

Sebenarnya, kita juga memiliki empat orang permaisuri. Permaisuri keempat adalah jasad kita. Bagaimanapun perhatian yang kita berikan terhadapnya, kita penuhi segala nafsu dan syahwatnya, jasad kita akan meninggalkan kita begitu kita meninggal dunia.

Permaisuri ketiga adalah kekayaan dan harta benda. Ketika kita meninggal, kekayaan dan harta benda kita akan meninggalkan kita dan segera menjadi milik orang lain.

Permaisuri kedua, keluarga dan teman. Berapa pun besar pengorbanan mereka kepada kita selama kita hidup, kita tidak dapat berharap kepada mereka ketika kita meninggal dunia, kecuali tidak lebih dari sebatas mengantarkan kita ke alam kubur.

Sedangkan permaisuri pertama adalah jiwa (ruh) dan hati. Kita tidak pernah memperhatikan jiwa dan hati. Selama ini kesibukan kita hanya untuk memenuhi syahwat kita sendiri, mengumpulkan harta dan memuaskan keluarga dan teman, padahal jiwa dan hati kita saja yang akan tetap menyertai kita nanti di alam kubur.

————————————————–

Jika dalam KB dua anak itu cukup, maka demi sunnah Rasul, sy katakan empat istri itu boleh! :)

Diambil secara diam-diam dari Madinatul Ilmi


[1] Judul asli dari TKP adalah “Raja dan Empat Orang Permaisuri”. Tapi demi bergenit ria dalam tulis menulis, judul diubah menjadi demikian. Sekali lagi, dikarenakan ini hanya genit-genitan dalam menulis, ibrahnya bisa diambil tanpa memandang jenis kelamin.


Pendidikan Kita Gagal

“mut ne lia g ap mut? gmn mut udh ad yum?”

Kening saya berkerut. Tergopoh-gopoh saya mencari kamus bahasa planet Mars. Obrak sana abrik sini, nihil. Penasaran, mungkin itu si pengirim iseng mengirimkan tulisan yang mesti dibaca balik lewat cermin. Atau tulisan itu baru bisa dimengerti kalau saya membalikkan HP. Tapi tidak juga. Ah, siapa lagi pengirimnya? +6287870275xxx. Namanya tidak terdeteksi. Akhirnya saya tanya saja dia langsung.

“Bahasa apa sih itu? *Mengernyitkan dahi.”

“itu lia mut dah ad lowongan yum?”

Hm… hm… hm… Saya tidak ingin memperpanjang ketidakjelasan ini.

“Salah sambung.” Saya kirim balasan singkat itu.

“ne lia sus imut msa gx knal ch?”

Lia? Saya tidak punya kawan atau kenalan bernama Lia. Hm, kalau dilihat dari gaya penulisan SMSnya, ini sepertinya ABG. Dapat nomor saya dari mana pula anak itu.

Saya jadi teringat sesuatu, tapi entah kapan. Saat itu ada SMS nyasar ke nomor saya. Mulanya saya beritahu dia kalau itu salah sambung. Dasar, tanpa tedeng aling-aling, ujung-ujungnya dia malah minta kenalan. Saya yang sama sekali tidak sedang jogging malah merasa kecapaian.

Untuk menutup kejadian serupa, saya tutup saja dengan keisengan siang-siang:

“Akyuh gag p03nYa k3n4l4n 4naK 4L4Y. Sorry ya!”

“gile u” balasnya.

Hahaha. Entah seperti apa mimik mukanya ketika menerima SMS pamungkas saya itu. Mungkin dia cemberut dan manyun seperti posenya di foto-foto kebanyakan anak alay. Mungkin juga dia kesal sampai ubun-ubun. Sekesal guru Bahasa Indonesia yang capai-capai sudah mengajarkan bahasa Indonesia dengan ejaan yang telah disempurnakan ketika mendapati dirinya dikhianati oleh generasi alay. Pendidikan kita telah gagal, wahai! :D


(Bab 36)

(Kejujuran itu akan senantiasa tampak jujur meski sekelilingnya berbusa-busa dalam berdusta. Sulit untuk terlihat, pun tak mudah untuk dirasa. Sekali terasa, serasa yakin. Dan setelah itu, kebenaran sejati tetap hanya diketahui oleh si pelaku dan Tuhan)

Dalam sebuah wawancara di salah satu TV swasta, perempuan cantik berbalut kerudung itu berujar dengan nada kata yang mengalun santai namun tegas. Dalam kasus yang melanda suaminya tersebut, ia teramat mendukung dan terlihat begitu yakin akan langkah yang sudah pemimpin keluarganya ambil dan lakukan. Senyum bangga kemudian terulas dari bibirnya yang merona. Melihat itu, entah dari sudut sebelah mana, saya menjadi malu. Pemicu langkah mundur suaminya itu sedikit-sedikit mulai terangkai dengan remahan memori saya dua tahun ke belakang. Perbincangan di awal tahun 2009 bersama keluarganya itu kembali mengajarkan saya sesuatu, tentang tidak baiknya berprasangka buruk karena ada yang masih bisa dirasa benar dari sebuah sikap yang tak mudah dirasa.

(Manusia harus sudah benar-benar mawas diri ketika berhadapan dengan prasangka. Jangan sampai kita merasa baik-baik saja, atau bahkan lebih mengerikan lagi, kita begitu membusungkan dada dengan sangkaan itu. Lantas kita menjadi orang yang merasa tidak terjadi apa-apa dengan diri kita, padahal sebenarnya sudah terjadi apa-apa yang bisa membinasakan diri kita sendiri. Kita tentu tidak menghendaki untuk menyerupai orang-orang terdahulu yang didepiksikan begitu tidak baiknya mereka dalam sejumlah kisah dalam al-Quran untuk kemudian kita ambil ‘ibrahnya saat ini lewat buruknya prasangka mereka saat itu)

Dalam penerimaannya yang dikesankan seramah mungkin dengan ekspresi wajahnya yang justru melelahkan, orang kedua di Kabupaten Garut itu menyelingi dengan sebuah cerita tentang kenapa ia dan keluarganya secara otomatis mendapatkan rumah dinas yang ruang tamunya sama-sama kami gunakan untuk berbincang-bincang tersebut. Entah dari mana ia memulai, saya tidak ingat lagi alurnya. Selain karena saya datang dengan membawa suatu topik yang berbeda, saya terlalu memperhatikan keganjilan yang tergurat di wajahnya saat ia berusaha meramahkan diri dengan mimik muka lelah dan bahkan terkesan emoh menerima kami. Yang pasti saya ikhtisarkan dari cerita yang dikisahkannya itu adalah kebukaninginan dirinya untuk duduk di kursi pemerintahan daerah Garut ini. Massa yang meminta (dan mendesak?), katanya dengan arah wajah diagonal ke samping bawah kiri. Ia kemudian melanjutkan cerita tentang jalannya kewenangan dirinya di daerah yang saat itu saya tinggali selama tiga bulan untuk PLP di sebuah SLB. Yang juga saya ikhtisarkan dari kisah yang diceritakannya itu adalah selalu saja dirinya merasa takut karena apa yang dilakukannya berseberangan dengan hajat masyarakat banyak.

Untuk kisah terakhir yang ia ceritakan, wajah lelahnya lumayan kompatibel dengan kesan yang ditampilkannya. Tapi itu sama sekali tidak membuat prasangka saya dari mulai memasuki gerbang rumah dinasnya, menunggu di pos penjagaan, sampai akhirnya duduk di ruang tamu yang kopong dari pernah-pernik ala pejabat, itu menjadi luntur. Prasangka saya begitu kuat terpancang. Dalam tempurung saya, tidak ada satu pun pejabat yang kesannya baik. Semua sama saja. Membuat apa yang terkesan di depan saya sama sekali tidak berarti apa-apa kecuali sekadar sebagai pencitraan saja.

(Merasa jugakah? Bukan kita yang menginginkan, tapi keadaan yang memaksa. Di tengah berserakannya hal-hal yang sifatnya artifisial sekarang ini, banyak orang terpaksa memasang plang skeptis di jidatnya. Apalagi kalau sudah menyangkut hubungan antara penguasa dengan rakyatnya; kesudahtidaklayakan sikap skeptis untuk diperbedatkan membuatnya harus segera diafirmasikan tanpa tedeng aling-aling. Membuat generalisir akan semua itu seolah menjadi suatu bentuk kewajaran dalam pengulangan sejarah di bagian ini.

Di tengah berserakannya topeng-topeng palsu, ada topeng yang terlihat palsu. Sebelum vonis turun, kemungkinan tidak akan mengganda lebih kecuali tetap dua: palsu atau asli. Baik-baiklah kita menghadapinya)


(Bab 35)

“Seterikat dalam satu pemikiran apapun dalam suatu jamaah, dan bergerak bersama-sama dengan anggota lainnya, tidak lantas menjadikan kita lepas dari label kesendirian.”

Begitu ucap seseorang di ujung sana. Saya menjadi teringat adagium yang pernah saya temukan entah di mana. Yang kemudian masih tersangkut dalam batang hipokampus dalam gumpalan otak saya adalah apa yang akan saya katakan: kita dilahirkan sendirian dari alam rahim, dan akan mempertanggungjawabkan jejak hidup secara sendirian pula.

Saya katakan barisan kalimat itu kepadanya yang berucap. Tiba-tiba dia balik bertanya, “Maka bagaimana memaknai relasi kita dengan manusia lain di bumi ini saat ini? Hanya irisan? Sebuah titik temu? Kebetulan? Dan alasan?”

Kaget saya ditanya seperti itu. Bukan apa-apa. Saya tidak mengerti. Haha. Apa itu maksud irisan, apa itu maksud titik temu, dan apa itu maksud alasan yang ditanyakannya, saya benar-benar tidak memahaminya. Haha.

Akhir-akhir ini, saya sering berjumpa dengan orang yang –menurut saya– pintar sekali dalam mencari makna hidup. Begitu menjelimet prapendefinisian yang diutarakannya. Saya jadi tersingkir. Seperti diusir dari perjumpaan dengannya yang barangkali tidak pantas bertemu karena memusingkan saya.

“Sederhana saja,” saya mulai menerima keterusiran ini. “Masalahnya terletak pada apa kita menyandarkan segala ketentuan dalam menjalani relasi tersebut; Islam atau bukan.”

Kan?


The Next Sadum and Amurah

Jika saya tidak mendapatkan pengetahuan baru tentang tempat-tempat yang dimusnahkan karena penyimpangan seksualnya selain Sadum dan Amurah, mungkin bilangan Gegerkalong Girang di Bandung yang akan menjadi tempat ketiga yang luluh lantak diazab jika saya menyambut dengan mesra pedulian salah seorang rekan kerja pria di sebuah sekolah dasar ketika saya sedang dalam kondisi tidak fit.

“Kamu kenapa sih Bebz? Sakit ya?” begitu tanyanya sok peduli untuk pertama kalinya.

Saya lantas melihat wajahnya. Bibir merah euceuy[1] terpasang sebagai senyuman dengan latar belakang kulit mukanya yang lumayan putih tapi menyebalkan. Ya, teramat menyebalkan. Bagaimana tidak, dia bersikap menjijikkan begitu rupa pada saya yang sedang sakit.

Lain waktu, ketika saya sedang beristirahat di warung dan mengeluh karena badan terasa pegal-pegal, dia ikut menukas dengan berkata, “O kamu pegal-pegal, Bebz? Sini aku pijitin, mau?”

Merinding saya mendengar tawaran dalam sikap manjanya itu. Terlebih lagi setelah dia menambahkan tawarannya tersebut yang hampir-hampiran membuat bogem saya mendarat manis di wajahnya yang tidak manis sama sekali.

“Sini, beneran, biar aku pijitin. Malu ya di sini –sekolah– mah? Okelah, kalau begitu di kostan aja, mau? Biar aku telanjangi sekalian!” ucapnya dengan mata melotot dan bibir menggemas manja.

Gila! Sedikitpun saya tidak menganggapnya sedang bercanda. Gelagatnya sebelum ini sudah menunjukkan sedemikian rupa. Dia mungkin mengira bahwa saya menganggapnya hanya sekadar bercanda. Tapi sebenarnya tidak sama sekali. Saya hanya menampakkan sikap wajar di tengah-tengah rekan kerja yang lainnya.

Di balik sikap saya yang seolah menganggapnya bercanda, saya berspekulasi tentang sesuatu. Sejak saat dia mengirimi saya SMS berisi ungkapan cinta, saya sudah bertindak layaknya intel. Saya buka akun Facebooknya. Saya lihat-lihat album fotonya yang ternyata benar-benar membuat saya ingin muntah dan semaput. Gaya-gaya berfotonya sungguh menggelikan. Lebih tepatnya –maaf– menjijikkan!

Barangkali dia mengira saya akan tetap menganggapnya bercanda ketika ungkapan-ungkapan cintanya masih tetap saya abaikan dalam sikap wajar selama bergaul di tempat kerja bersamanya. Tapi sungguh saya sudah memahamkan diri tentang dia yang –saya lihat– sedang menggunakan sikap psikologi kebalikan tingkat tinggi. Candaan-candaannya selama ini, yang dipakai pula saat mengungkapkan rasa sukanya pada saya, menjadi sebuah lapisan kamuflase untuk menyembunyikan esensinya yang asli. Sebagai orang yang menyukai sikap psikologi kebalikan yang radikal, saya mengetahui betul itu.

Saya mengelus dada. Sebabnya, sudah beberapa kali saya adu argumen dengannya tentang masalah politik dari sudut pandang agama. Itulah yang membuat saya mengetahui bahwa dia berasal dari sebuah kelompok-yang-anggotanya-mestilah-tidak-ada-yang-seperti-dia.

Meskipun dia pernah berucap mencintai saya karena Allah, saya sama sekali tidak pernah menggubrisnya ketika beberapa kali dia mencuri-curi kesempatan menyentuh bagian-bagian tertentu dari tubuh saya dalam keriuhan.

Saya bahkan sempat bertanya-tanya tentang apa saja yang dipelajarinya dari kelompoknya tersebut. Ataukah mungkin disiplin ilmu psikologi yang diambilnya di perkuliahan sudah cukup membenamkan pengetahuan-pengetahuan transendental dari kitab suci, entahlah saya kurang tahu. Mengingat Freud begitu menokohi psikologi, mungkin memang benar di matanya, psikologi sudah cukup digdaya dan gigantik dalam membenarkan keanomaliannya ter(jijik)sebut dalam berhidup.

Atau barangkali dia mengikuti tiga prinsip Musdah Mulia sebagai tawaran pemikirannya untuk mengkaji ulang homoseksualitas, di mana maqashid syariah ala dirinya, relativitas fiqih, dan tafsir tematik dikedepankan? Tidakkah dia lebih mengambil pelajaran dari kisah diluluhlantakkannya negeri Sadum dan Amurah yang penduduknya berlaku menyimpang dalam hal seksualitas, untuk ini?

[11:74] Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoaljawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth.

[11:75] Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah.

[11:76] Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak.

[11:77] Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit.”

[11:78] Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?”

[11:79] Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.”

[11:80] Luth berkata: “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).”

[11:81] Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”.

[11:82] Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,

[11:83] Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.

————————————–

Bandung, 12 Agustus 2011,

28 hari setelah saya menghadiri pernikahan sepasang teman dan mendapat kabar yang awalnya menyenangkan lantaran si pengantin wanita menyampaikan salam dari kerabatnya yang kelihatannya menyukai saya, dan ternyata akhirnya menyebalkan karena salam suka itu datang dari seorang laki-laki yang bernama Doni. Setelah itu saya mengira bahwa Sukabumi akan menjadi tempat keempat menyusul hilangnya Sadum dan Amurah, jika saya membalas salam si Doni. Haha.

Ini semua mengingatkan saya saja pada beberapa tahun ke belakang, ketika saya sedang membetulkan alas kaki dan didatangi seorang tua yang tersenyum manja lantas mengejar saya yang berlari kabur ke dalam masjid.


[1] Padanan Sunda untuk mengungkapkan kemerahan yang sangat atas warna merah.


Membaca Gejala dari Jelaga

matahari terlalu pagi mengkhianati
pena terlalu cepat terbakar
kemungkinan terbesar sekarang, memperbesar kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan
sehingga setiap orang yang kami temui tak menemukan lagi satu pun sudut kemungkinan untuk berkata tidak mungkin
tanpa darah mereka mengering
sebelum mata pena berkarat dan menolak kembali terisi
sebelum semua paru disesaki tragedi dan pengulangan menemukan maknanya sendiri dalam pasar, dalam limbah dan kotoran, atau mungkin dalam seragam sederetan nisan
kita pernah bernazar
untuk menantang awan
menantang langit dengan kalam-kalam terhunus
hingga hari-hari penghabisan
tanpa pretensi apapun untuk mengharapkan surga dan neraka di atas semua…
 
kita berangkat dengan rima dan kopi secawan
berkawan dengan bentangan kalam yang menantang awan
menggalang pijakan dari hulu waktu yang membidani zaman
di mana microphone digenggam dengan hasrat menggantang ancaman
mengkafani kawanan serupa lalat dari pusat pembuangan sampah
bernazar membuat para tiran berjatuhan
menyisakan potongan kalimat profan berceceran
dengan luka sayatan dari medan perang puputan
kita tantang kutukan, kita kutuk pantangan
sehingga setiap angan paralel dengan surga-neraka dan dalil langitan
serupa komando yang meluncur dari Mabes hingga Koramil
serupa toxin yang berselancar pada darah sebelum maut menjemput Munir
menyisir petaka yang membiarkan mereka menggadaikan pasir
pada pantai, pada bumi yang penuhi oleh barcode dan kasir
yang menghibahkan filsafat pada para vampir
pada mereka yang melabeli setiap oponen dengan stempel kafir
pada mereka yang datang pada malam terkelam
saat cahaya hanya datang dari belukar di tengah makam
kita pernah sisakan harapan yang esok siap cor menjadi belati
pikulan beban serupa pitam yang kembali berhitung dengan mentari
 
dengan tangisan bayi yang mengajarkan kembali bagaimana menari
bagaimana mengingat janji dan mengepalkan jemari
bagaimana seharusnya hari-hari berbagi api
bagaimana menyulutnya pada nadi dan mengumpulkan nyali
dan semua darah bertagih telah kita bayar lunas
sejak kalimat angkara kita terlanjur menjadi lampiran kajian Lemhanas
kau dan aku tahu pahlawan tak lagi datang dari kurusetra  
namun dalam bentuk donasi mie instan di tengah bencana
sejak tanah basah ini menagih janji mata yang dibayar mata
sejak mata sungai menagih suara mereka yang hilang di ujung desa
sejak kebebasan hanya berarti di hadapan kotak suara
sejak para ekonom memperlakukan nasib serupa statistik ramalan cuaca  
telah khatam kita baca semua analisa semua neraca  
semua muslihat tai kucing yang membenarkan semua prasangka
kita belajar membaca gejala dari jelaga  
pada malam-malam terhunus dan waras-waras kita terjaga  
memaksa tidur dengan satu kelopak mata terbuka
menahan pitam tanpa riak serupa telaga  
serupa hasrat yang dipertahankan setengah mati tetap menyala
pada setengah hidup kita yang mengalir mencari muara  
sehingga udara membutuhkan amis darah agar sirine tetap mengalun
agar waras diingatkan tentang wabah yang akut menahun
tentang pagut yang santun, yang memusuhi pantun
yang membakar habis hasratmu setelah dipaksa dipasung
mungkin kau ingat tentang petaka yang dalam hitungan kurun waktu singkat
berubah menjadi rahmat
merubah alam bawah sadarmu sehingga terbiasa dengan mayat
sekarang merubahmu kasat di depan deretan kalimat 
bergabung bersama mata-mata yang terbiasa terang bersama pekat
 
serupa kepastian, serupa asuransi
serupa janji yang meprediksi di mana kau suatu hari nanti dengan pasti
sehingga semua pertanyaan kau tinggal mati
sehingga rimaku hari ini dan terompet Israfil dapat bertukar posisi
dan menantang mentari…

Maksiatisasi Ramadlan

Bermohonlah kalian kepada Allah, Tuhan kalian, dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbing kalian untuk melakukan shaum dan membaca Kitab-Nya. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah pada bulan yang agung ini. Kenanglah, dengan rasa lapar dan haus kalian, kelaparan dan kehausan pada Hari Kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fakir dan miskin. Muliakanlah orangtua-orangtua kalian, sayangilah yang muda, sambunglah tali persudaraan kalian, jagalah lidah kalian, tahanlah pandangan kalian dari apa yang tidak halal kalian pandang, dan peliharalah pendengaran kalian dari apa yang tidak halal kalian dengarkan…

Kasihanilah oleh kalian anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatim kalian. Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosa kalian. Angkatlah tangan-tangan kalian untuk berdoa pada waktu shalat kalian karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah ‘Azza wa Jalla memandang hamba-hambanya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya, dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya…

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-diri kalian tergadai karena amal-amal kalian. Karena itu, bebaskanlah dengan istigfar. Punggung-punggung kalian berat karena beban (dosa) kalian. Karena itu, ringankanlah dengan memperpanjang sujud kalian.

 (Penggalan khutbah Ramadlan oleh Nabi SAW)

Dulu, nuansa Ramadlan begitu kentara terasa. Serbuan iklan di banyak media begitu gencar penyambutannya. Program dari setiap stasiun TV pun seolah jungkir balik. Serupa seorang atheis yang sudah mengenal Tuhan; begitu militan. Kini pun tidak jauh berbeda dan demikian adanya. Tapi entah apa niat sebenarnya di dada-dada mereka, para produser yang menyiarkan program-program di banyak media itu. Karena sebelum bulan puasa datang, program-programnya begitu menjijikkan. Pasti ada, dalam program apa saja, dari stasiun TV mana pun, muatan-muatan yang sifatnya diametral dengan program-program Ramadlan yang siap mereka udarakan. Dan setelah Ramadlan lewat, program-program menjijikkan itu diudarakannya lagi. Seolah dalam sebulan sebelumnya, mereka bertaubat dengan caranya sendiri atas apa yang sudah diberikannya pada khalayak ramai. Karena, betapa pun ada segelintir masyarakat yang menyenangi kejijikan dari mereka, mereka mengetahui ada gelombang besar ketidaksetujuan atasnya. Negara pun seolah berpihak pada mayoritas itu dengan berdirinya KPI meski secara independen. Tapi apa hasil? Kejijikan itu tetap ada dengan hanya ditandai -paling banyak- oleh dua huruf serupa BO untuk menyingkat frase “bimbingan orangtua” untuk anak-anaknya. Lebih parah lagi dengan tanda huruf D yang menandakan bahwa tayangan tersebut adalah khusus untuk orang dewasa, sementara ia tayang bebas. Bukankah mereka tahu pengawasan untuk anak-anak begitu minim dan mereka malah menambah kesulitan para orangtua saja? Maka bedebahlah mereka! Dan saya tidak akan sungkan mendoakan mereka dengan umpatan sekutuk itu.

Di media (terutama televisi) selama bulan puasa, pun kita sering menjumpai hal-hal yang berbau Islam. Apapun diislamisasi. Tapi kita mesti jeli untuk mengetahui dan memilah, mana dari sekian acara-acara itu yang justru tidak lebih dari selaknat maksiatisasi kegiatan-kegiatan islami di bulan Ramadlan. Sinetron-sinetron yang entah kapan selesainya itu diputarhaluan menampilkan nuansa Ramadlan. Para pemainnya, tokoh antagonis sekalipun, ramai-ramai menutup aurat yang justru tidak tertutup sama sekali kecuali sebagian saja. Mirisnya, adegan-adegan kegiatan Ramadlan yang ditampilkan masih tidak mendidik. Bukankah kita sering melihat scene di mana pasangan muda-mudi pergi tarawih bareng, dan setelah selesai pacaran kembali dilakukan? Belum lagi dari program-program tausyiah yang asal-asalan. Di sana kita sering mendengar ceramah yang menasihati audiens remajanya dengan seruan, “Tahanlah pacaran kalian dalam sebulan ini,” atau “Tadarus dan tarawihlah bersama pacar,” dan sederetan nasihat-nasihat mencelakakan lainnya?

Portal-portal berita pun tidak ketinggalan dalam menyiarkan kabar-kabar Ramadlan. Semua berita yang diangkatnya lebih didominasi oleh nuansa Ramadlan. Mulai dari jajanan, makanan, pakaian, dan barang-barang yang laku selama Ramadlan, sampai berita tentang seorang penguasa yang mengajak para pelaku lokalisasi di suatu daerah untuk melaksanakan shalat tarawih bersama sebelum melakukan pekerjaan kotornya pun diangkat. Tidak lupa pula mengangkat aksi dari suatu gerakan atau sekelompok masyarakat yang menyerang tempat-tempat maksiat karena bebal, dan malah mengarahkan pemirsanya untuk mengutuk aksi tersebut.

Belum lagi program-program pengantar sahur di hampir stasiun TV, yang justru lebih menonjolkan acara lawaknya ketimbang muatan-muatan yang bermutu. Atau kalau tidak, acara musiknya di mana band-band yang tampil masih membawakan lagu-lagu cinta pengajak maksiatnya. Sesekali mereka ramai-ramai menyenandungkan lagu-lagu so-called religi. Bahkan para pengisi program pengantar sahur itu pun banyak yang tidak menutup aurat. Barangkali mereka berpikir lebih baik berpenampilan seperti itu saja untuk kemudian tidak dikatakan sebagai seorang munafik. Karena sebelum dan selepas Ramadlan, setiap tahunnya, mereka memang berpenampilan seperti itu. Padahal, mereka tidak kalah dengan seorang munafik yang asli sekalipun.

Sekilas kegiatan-kegiatan itu tampak baik. Tapi sungguh di baliknya adalah suatu kehinaan yang menghinakan bulan suci Ramadlan. Jika Allah memberikan bulan Ramadlan pada kita karena di dalamnya memuat berjuta-juta keberkahan, dan Nabi Muhammad SAW gembira menyambut dan mengisinya dengan penaikkan ibadah-ibadah pada level tinggi dengan segala ketentuannya, maka beranikah kita yang justru memaksiatisasi semua ibadah dalam bulan itu? Tentu saja, jika otak kita masih terpasang di dalam batok kepala dan bukan di dengkul, kita tidak akan serta merta melakukan semua kehinaan itu. Ramadlan terlalu suci untuk kita kotori.

Sudah barang tentu sebelas bulan sebelum kedatangan Ramadlan kita begitu belepotan dosa. Allah sudah sengaja menyediakan satu bulan di mana hujanan ampunanNya deras membasahi jiwa-jiwa muram kita. Lamat-lamat, noktah yang hitam menjelaga dalam hati kita tergerus setitik demi setitik sampai masa fitrah kembali itu tiba. Tentu semuanya bisa kita raih dengan usaha kita menempuh ujian shaum ini. Bukankah secara general tidak akan ada hasil kalau tidak ada usaha? Lalu dalam usaha meraihnya kita malah menempuh cara-cara yang sama sekali tidak pernah dituntun oleh syara’. Kita malah justru sering menambah dosa selama shaum. Sehari-hari selama bulan puasa yang seharusnya dipenuhi oleh rangkaian ibadah malah ditaburi dosa lagi. Hendak kita jadikan apa diri ini? Suluh Neraka? Na’udzubillah.

Jangan sampai, di bulan yang penuh berkah ini, kita melewatkan kegiatan-kegiatan yang efeknya bisa menyucikan diri. Jangan sampai pula, di bulan penuh ampunan ini, kita memaksiatisasi segala kegiatan-kegiatan tersebut. Mestinya kita sadar diri di bulan ini. Bahwa bulan ini adalah karuniaNya yang datang setahun sekali untuk kita membersihkan diri. Karena itu, perhatikanlah baik-baik. Alih-alih kita mengisi Ramadlan ini dengan kegiatan-kegiatan islami, jika tidak tahu aturannya, kita justru telah memaksiatisasi Ramadlan.

—————————–

Pagi di Minggu yang cerah untuk menyambut Ramadlan besok…

Ditemani dengan secangkir roti rasa blueberry dan sebatang kopi rasa sirup, kok rasanya aneh ya? –”


Que Sera, Sera…

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (al-‘Ankabut [29]: 57)

—————————————-

Malam itu saya tidur pulas sekali. Seperti malam di mana saya sama sekali tidak terantuk oleh goncangan gempa yang terjadi di pagi buta di Cilacap. Begitu terjaga, saya mendapati sebuah pesan masuk di nomor saya. Dari adik di Cianjur, saya lihat. Isinya menanyakan kabar tentang saya selama ini di Bandung. Katanya, ibu yang bertanya itu. Beliau sampai menangis karena malam tadi memimpikan saya. Kenapa, saya tanya. Adik saya hanya menuliskan bahwa ibu bermimpi kalau saya mau meninggal dunia.

***

Saya tidak tahu persis seperti apa perasaan Ibu kala itu, saat penduduk Hiroshima menandai peringatan 40 tahun terjadinya bom atom kota dan lima hari sebelumnya di bumi Indonesia saya terlahir. Setahu saya, setiap ibu mana pun pasti merasakan kebahagiaan saat anaknya lahir ke dunia. Kecuali para ibu yang tidak punya hati nurani, tentunya. Berapa masa kesadaran saya tentang mempunyai seorang ibu itu belum sempurna, selama itu pula saya kurang mengetahui kenangan-kenangan yang terjadi bersamamu, Bu.

Sepanjang perjalanan hidup ini, saya memang berlaku pasif dalam menciptakan hubungan yang harmonis di keluarga. Penampakan kasih sayang saya terlalu lemah hingga bisa dengan mudah dibenam rasa malu. Karena tidak terbiasa, barangkali. Atau mungkin saya yang kurang peka dalam menerima kasih sayang dari kalian, saya bahkan kurang tahu bagaimana awalnya. Yang jelas, saya selalu merasa malu kalau saya harus menampakkan kasih sayang dalam sikap pada kalian. Barangkali saya akan terlalu romantis untuk keluarga dalam ketidakbiasaan, dan kalian akan menertawakannya, sekalipun saya tahu kedalaman hati kalian yang akan terenyuh juga. Saya hanya bisa merutinkan doa untuk kalian, Bu, di setiap akhir shalat setiap harinya saja. Dengan lantunan doa itu, saya selalu berharap kelak bisa terus menyambung pahala amal jika Izrail mengantar kalian ke alam kubur.

***

Mendapati berita tentang mimpi itu, saya tertawa. Terpasangnya senyum geli yang diwakili oleh bibir saya adalah menyembunyikan perasaan sedih. Bukan sedih karena di dalam mimpi ibu itu saya akan meninggal, tapi sedih mengetahui mimpi yang menyedihkan itu membuat ibu saya bersedih. Berjalan-jalanlah pikiran saya seketika ke masa-masa yang silam. Masa-masa di mana saya masih begitu kecil. Tergambar pula sekelebat apa yang pernah saya lihat dalam album foto keluarga. Saya terlihat begitu bulat nan lucu dalam pangkuan hangat ibu. Muka menggemaskan itu kini tidak bisa dinikmatinya lagi karena seiring pertumbuhan saya menjadi seorang pemuda dengan tekstur wajah yang sama sekali tidak layak dikatakan sebagai baby face lagi. Tapi saya yakin, kasih ibu tak akan serta merta luntur dengan lunturnya epidermis halus pipi saya kini. Relasi antara ibu dengan anaknya terlalu dangkal jika hanya dinilai dari tampilan fisik yang berpadu. Kohesinya lebih bermakna dari itu; ia meresap ke dalam setiap lubang pori-pori kulit yang terkecil sekalipun untuk kemudian mendenyutkan jiwa. Benang tak kasatmata pertanda jalinan cintanya seorang ibu kepada anaknya menali di sana. Tak ada perkara fisik apapun yang bisa membuatnya putus. Buktinya, kepergian tak terjadi anaknya yang sudah seperempat abad ini masih ditangisinya meski hanya dalam sebuah mimpi.

***

Ah Ibu, mungkin dulu saya begitu takut akan kematian. Tapi kini lain. Saya sudah mengetahui betul kalau kematian adalah sesuatu yang pasti akan terjadi. Suatu halaman yang entah ke berapa dalam kitab Lauh al-Mahfuzh akan berhenti memuat nama saya di sana. Begitupun engkau. Itu sudah merupakan ketetapanNya. Tak seorang pun yang bisa mengubahnya. Memundurkan barang sedetik saja tidak akan pernah dapat.

Dulu engkau memasukkan saya ke madrasah untuk mengetahui ilmu agama, bukan? Inilah salah satunya, Ibu. Dengan mimpimu itu, kita seolah diingatkan tentang bukti keimanan kita. Di sinilah kita harus mengimani ketetapanNya tersebut. Iman kepada qadlaNya. Menangis seperti yang engkau lakukan pun tak apa. Manusiawi. Saya hanya ingin mencoba penuh saja dalam membuktikan keimanan ini. Karena itu saya mengesankan diri setenang mungkin.

***

Terang saja adik saya malah keheranan ketika membaca kata “hahaha” dalam pesan yang saya kirimkan sesudahnya. Kenapa tertawa, tanyanya. Saya bilang, “Que sera, sera…

Yang harus terjadi, terjadilah.

Seiring dengan ketikan jemari saya dalam mencipta sebaris kalimat “que sera, sera” itu sungguh saya pun ingin menangis kala diingatkan seperti itu. Bakti saya belumlah, bahkan tidak akan pernah, penuh dan sempurna dan menandingi kasih sayangnya selagi saya masih kecil. Di sisi lain, saya harus mempertanggungjawabkan sendiri jejak saya selama di dunia. Bekal saya untuk menghadapi kehidupan di balik kematian masih belum cukup. Tapi selama nyawa saya belum diambil Izrail pun, tak akan pernah saya hentikan lantunan doa untuknya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.